![]() |
| Ilustrasi (Foto: Hatice Baran/Pexels) |
Muslimahkertas.web.id, Kesedihan merupakan bagian dari pengalaman manusia. Alquran tidak menggambarkan manusia sebagai makhluk yang selalu kuat, tenang, dan mampu menerima setiap keadaan tanpa gejolak emosi. Bahkan orang-orang pilihan Allah pun pernah mengalami kesedihan yang sangat berat. Salah satunya adalah Maryam.
Yang menarik adalah cara Allah merespons Maryam. Allah tidak memberikan uraian panjang tentang kesabaran. Allah juga tidak menyalahkan Maryam karena mengungkapkan kesedihannya. Sebaliknya, respons yang diberikan justru berlangsung secara bertahap.
Bentuk Kesedihan dan Beban Maryam
Maryam menghadapi masalah yang tidak sederhana. Al-Qur’an menggambarkan keadaan yang sangat berat: ia mengandung, mengasingkan diri dari kaumnya, menghadapi rasa sakit persalinan, dan berada dalam keadaan sendirian. Ketika rasa sakit itu mencapai puncaknya, Maryam berkata:
فَاَجَاۤءَهَا الْمَخَاضُ اِلٰى جِذْعِ النَّخْلَةِۚ قَالَتْ يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا
“Rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia (Maryam) berkata: Wahai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak berarti dan dilupakan.” (QS. Maryam: 23).
Perasaan dan tekanan yang dihadapi Maryam justru dicatat dan diabadikan dalam wahyu. Al-Qur’an memperlihatkan bahwa seorang perempuan yang dimuliakan dan dipilih Allah pun dapat mengalami tekanan yang begitu berat hingga mengucapkan keinginan untuk tidak lagi menghadapi keadaan tersebut. Dalam menafsirkan ayat ini, as-Sa‘di menjelaskan bahwa Maryam menghadapi beberapa penderitaan sekaligus: rasa sakit persalinan, kesendirian serta keterbatasan makanan dan minuman, dan beban hati karena khawatir terhadap perkataan manusia. Ia menggambarkan keinginannya untuk mati sebagai ungkapan yang muncul karena beratnya keadaan yang sedang dihadapinya.
Para mufassir juga memberikan perhatian pada alasan di balik ucapan Maryam. Ibnu Katsir mengaitkannya dengan beratnya ujian yang akan dihadapinya di tengah masyarakat: perempuan yang sebelumnya dikenal sebagai seorang yang tekun beribadah dikhawatirkan akan dituduh melakukan sesuatu yang buruk karena melahirkan seorang anak tanpa suami. Sementara itu, al-Qurtubi menjelaskan bahwa keinginan Maryam tersebut berkaitan dengan kekhawatirannya terhadap fitnah terhadap dirinya dan kemungkinan manusia terjerumus ke dalam tuduhan yang tidak benar.
Ketika Maryam mengungkapkan keinginannya untuk mati karena begitu beratnya keadaan yang ia hadapi, rangkaian ayat berikutnya tidak menggambarkan respons berupa penyudutan terhadap dirinya. Sebaliknya, yang segera tampak adalah pertolongan dan penenangan.
Di sinilah kisah Maryam menjadi sangat relevan untuk direnungkan oleh siapa pun yang sedang berada dalam tekanan berat. Al-Qur’an memperlihatkan bahwa penderitaan manusia dapat begitu berat hingga seseorang mengungkapkan keputusasaan, dan bahwa respons terhadap penderitaan tersebut dapat dimulai dengan memahami keadaan orang tersebut, menenangkan kegelisahannya, serta menghadirkan pertolongan yang nyata.
Meredakan Kesedihan dan Menghadirkan Rasa Aman
![]() |
| Ilustrasi (Foto: tom9802/Pixabay) |
Setelah Maryam mengungkapkan kesedihannya yang begitu dalam, Allah meresponsnya dengan sebuah panggilan yang menenangkan: “Janganlah engkau bersedih.” (QS. Maryam: 24).
Kalimat ini hadir setelah Maryam mengungkapkan keinginannya untuk mati karena beratnya keadaan yang sedang dihadapi. Allah tidak mengatakan bahwa perasaan Maryam berlebihan. Allah juga tidak mencela dirinya karena sempat menginginkan kematian. Respons pertama yang diberikan justru berupa ketenangan.
As-Sa‘di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pada saat itu rasa takut Maryam ditenangkan dan keteguhannya dipulihkan (sakkana raw‘ahā wa thabbata ja’shahā), kemudian ia diberi penjelasan tentang pertolongan yang telah disediakan untuknya.
Allah tidak memberikan penjelasan panjang tentang mengapa semua peristiwa itu harus terjadi. Allah terlebih dahulu menenangkan keadaan batinnya. Ini menunjukkan bahwa dalam kondisi kesedihan yang mendalam, seseorang belum tentu siap menerima banyak penjelasan.
Ayat berikutnya mengatakan, “Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” (QS. Maryam: 24). Allah menunjukkan bahwa di bawahnya telah tersedia sebuah anak sungai. Ath-Ṭhabari menjelaskan bahwa sariyy yang dimaksud adalah sungai kecil atau aliran air, dan memilih pendapat ini sebagai pendapat yang lebih kuat.
Setelah sebelumnya ditenangkan dengan kalimat jangan bersedih yang bersifat abstrak, Maryam segera diarahkan kepada sesuatu yang konkret dan berada di sekelilingnya: ada air yang dapat diminum dan, pada ayat berikutnya, ada pohon kurma yang dapat digoyangkannya.
Ketika seseorang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, perhatian kepada hal-hal konkret dapat membantunya keluar sejenak dari pusaran pikiran dan kembali berhubungan dengan kebutuhan dirinya dan keadaan di hadapannya.
Pemberdayaan melalui Aktivitas dan Ikhtiar
Allah kemudian memberikan sebuah perintah: “Goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu...” (QS. Maryam: 25). Perintah ini menarik karena Maryam sedang berada dalam kondisi yang sangat lemah setelah melahirkan. Ath-Thabari dalam tafsirnya mengatakan bahwa perintah tersebut sebagai tindakan menggoyangkan pohon kurma hingga buah kurma jatuh kepada Maryam.
Jika dilihat dari sisi ini, perintah menggoyangkan pohon kurma dapat menjadi pelajaran tentang pentingnya aktivitas dan ikhtiar ketika seseorang sedang menghadapi masa sulit. Maryam tidak diperintahkan menyelesaikan persoalan besar yang sedang menantinya. Ia hanya diminta melakukan satu tindakan yang sederhana dan berada dalam jangkauan kemampuannya. Ada sesuatu yang dapat ia lakukan, meskipun dirinya sedang berada dalam keadaan yang sangat terbatas.
Menariknya, hasil dari ikhtiar Maryam tidak sebanding dengan kekuatan yang ia keluarkan. Pohon kurma yang kokoh tidak mungkin mudah digoyangkan oleh seseorang yang baru saja melahirkan. Namun justru di sinilah tampak bahwa ikhtiar manusia tidak selalu harus dipahami sebagai kemampuan untuk menghasilkan segala sesuatu dengan kekuatannya sendiri. Maryam diperintahkan bergerak, sementara hasilnya tetap berada dalam kuasa Allah.
Kisah Maryam dapat menjadi refleksi bahwa ketika seseorang sedang berada dalam masa sulit, ia tidak selalu harus menyelesaikan seluruh persoalannya sekaligus. Terkadang, langkah pertama adalah menemukan satu hal kecil yang masih dapat dilakukan.
Makan, minum, dan Bersenang Hati
![]() |
| Ilustrasi (Foto: Thirdman/Pexels) |
Allah berfirman, “Maka makanlah, minumlah dan bersenanghatilah.” (QS. Maryam: 26). Dalam merespons Maryam yang sedang berada dalam penderitaan berat, Allah tidak mengabaikan kondisi jasmaninya. Dalam konteks kisahnya, perintah tersebut berkaitan dengan keadaan konkret Maryam yang baru saja melalui persalinan dan membutuhkan makanan serta minuman. Para mufasir menjelaskan perintah ini secara nyata, yakni agar Maryam memakan kurma yang telah tersedia dan meminum air yang Allah sediakan. Menangani pasca persalinan ini juga relevansi dengan medis.
Tubuh yang lelah membutuhkan makanan dan minuman, sementara hati yang terluka membutuhkan ketenangan. Keduanya berjalan beriringan. Ayat ini memberi pelajaran bahwa perhatian kepada orang yang sedang bersedih juga dapat diwujudkan melalui hal-hal yang sangat sederhana: memastikan ia makan, cukup minum, beristirahat, dan berada dalam kondisi yang memungkinkan tubuhnya kembali memiliki tenaga.
Selain dalam konteks persalinan, orang yang sedang mengalami kesedihan berat sangat mungkin kehilangan selera makan, kelelahan, sulit beristirahat, atau tidak memperhatikan kebutuhan dirinya. Karena itu, kepedulian kepada orang yang sedang bersedih juga dapat diwujudkan melalui perhatian terhadap kebutuhan jasmaninya.
Allah melanjutkan, وَقَرِّي عَيْنًا “dan bersenanghatilah” (QS. Maryam: 26). Respons Allah kepada Maryam tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi juga mencakup pemulihan keadaan batinnya.
Ath-Thabari menafsirkan qarrī ‘aynan dengan makna “ṭayyibī nafsan”, yakni menenangkan atau membahagiakan jiwa. Ia mengaitkannya dengan kelahiran Isa dan mengarahkan Maryam untuk tidak lagi larut dalam kesedihan.
Menariknya, ketenangan tersebut hadir ketika persoalan Maryam sebenarnya belum sepenuhnya selesai. Ia masih harus kembali kepada kaumnya. Ia masih akan berhadapan dengan pertanyaan dan kemungkinan tuduhan. Namun Allah tidak menunggu seluruh masalah selesai untuk memulihkan hatinya. Ini menunjukkan bahwa ketenangan batin dan penyelesaian masalah adalah dua hal yang tidak selalu datang bersamaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini mengajarkan bahwa ketika mendampingi orang yang sedang bersedih, seseorang tidak selalu harus menyelesaikan seluruh persoalannya. Terkadang yang lebih dibutuhkan terlebih dahulu adalah membantu seseorang memperoleh kembali ketenangan agar ia memiliki kekuatan untuk menghadapi persoalan.
Pemberian Jeda dan Ruang dari Tekanan Sosial
![]() |
| Ilustrasi (Foto: Mikhail Nilov/Pexels) |
Allah berfirman, “Jika kamu melihat seseorang, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.’” (QS. Maryam: 26).
Maryam tidak diperintahkan untuk langsung menjelaskan seluruh keadaan dirinya kepada orang-orang yang akan mempertanyakannya. As-Sa'di menjelaskan bahwa Allah merespon persoalan Maryam berupa rasa sakit persalinan dengan cara terpenuhinya kebutuhan makanan dan minuman, serta hadirnya ketenangan dan kenyamanan. Persoalan lainnya adalah perkataan manusia. Untuk menghadapi bagian ini, Maryam diperintahkan untuk tidak berbicara kepada mereka pada hari itu agar terbebas dari perkataan dan pertanyaan mereka.
Perintah tersebut memberikan Maryam sebuah ruang. Ia tidak harus memasuki percakapan panjang ketika kondisi dirinya masih sangat rentan. Ia juga tidak harus membela diri dengan kata-katanya sendiri pada saat itu. Ada batas komunikasi yang Allah tetapkan untuknya. Ini menunjukkan bahwa mengambil jeda dari tekanan sosial pada kondisi tertentu dapat menjadi bagian dari pertolongan.
Tekanan dari manusia sering kali menjadi beban tersendiri bagi seseorang yang sedang mengalami kesedihan. Pertanyaan, tuntutan penjelasan, komentar, bahkan penilaian orang lain dapat membuat beban yang sudah berat menjadi semakin berat.
Dalam psikologi, gagasan mengenai jeda memiliki keterkaitan dengan beberapa konsep teoretis. Salah satunya adalah solitude sebagai bentuk regulasi afektif. Penelitian Nguyen, Ryan, dan Deci menunjukkan bahwa berada sendiri dapat menurunkan aktivasi emosi yang tinggi, dan ketika solitude dilakukan secara sukarela, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan relaksasi serta penurunan stres.
Penutup
Pelajaran penting dari kisah Maryam bukan hanya tentang bagaimana seseorang menghadapi kesedihan, tetapi juga tentang bagaimana seharusnya merespon orang yang sedang bersedih. Allah tidak merespons kesedihan Maryam dengan satu bentuk pertolongan saja. Respons itu berlangsung secara bertahap, menyentuh kondisi emosional, kebutuhan jasmani, tindakan konkret, dan tekanan sosial yang sedang dihadapinya
Kisah Maryam menunjukkan bahwa respons terhadap kesedihan tidak cukup dipahami sebagai upaya menghilangkan emosi negatif. Rangkaian ayat tersebut memperlihatkan perhatian terhadap kondisi manusia secara utuh: meredakan distress, menghadirkan rasa aman, mendorong tindakan yang sesuai dengan kemampuan, memenuhi kebutuhan fisiologis, memulihkan ketenangan batin, serta memberikan ruang dalam menghadapi tekanan sosial. Pola tersebut memberikan perspektif penting bahwa pendampingan terhadap orang yang sedang bersedih seharusnya berangkat dari pemahaman terhadap kebutuhannya, bukan semata-mata dari keinginan untuk segera mengubah emosinya.
Yang tampak dalam rangkaian ayat tersebut adalah sebuah bentuk pertolongan yang mempertimbangkan manusia secara utuh: kesedihannya diakui, kebutuhan jasmaninya diperhatikan, ia tetap diberi kapasitas untuk melakukan sesuatu, ketenteraman hatinya dipulihkan, dan ia tidak dipaksa menghadapi tekanan sosial melalui cara yang melampaui kemampuannya pada saat itu. Dari sinilah kisah Maryam dapat menjadi sumber refleksi dalam belajar memahami orang yang sedang bersedih. Wallahu a'lam




